Wednesday, August 21, 2019

MARHABAN AQIQAH PEUCICAP ADAT TRADISI PEUTROEN ANEUK ACEH


Aceh Review- *Peucicap
Upacara peucicap adalah upacara untuk memberi rasa makanan kepada bayi. Rasa yang diberikan ini terdiri dari manisan lebah dan air buah-buahan. Bahan-bahan yang harus dipersiapkan dalam upacara ini terdiri dari manisan lebah, buah sawo, mangga, rambutan, nangka, dan tebu,dan Air Zam-zam.

Kemudian dibutuhkan juga hati ayam, ikan lalu persiapkan juga surat Yasin dan Rencong. Bahan-bahan tadi dipersiapkan oleh nenek bayi dari pihak ibu bayi. Peucicap dilakukan oleh orang-orang alim terpandang dan baik budi pekertinya agar bayi itu kelak alim, terpandang, dan baik budi pekertinya. Karena menurut anggapan mereka bayi akan meniru sifat-sifat orang peucicap.

Aceh Review- *Aqiqah
Masyarakat Aceh menganggap upacara akikah merupakan adat yang berkaitan dengan agama. Bagi orang-orang yang mampu, upacara dilangsungkan dengan menyembelih kerbau atau kambing sedangkan bagi yang kurang mampu akan menyembelih kambing saja. Hewan yang disembelih adalah jantan, tidak boleh betina.

Tradisi ini berlaku turun-temurun. Daging hewan harus habis dimakan pada hari kenduri itu. Kalau masih ada sisanya daging itu dibagi-bagikan kepada sanak keluarga dan tetangga. Pada saat akan dilangsungkan upacara, ayah si bayi menyerahkan hewan sembelihan itu dan seluruh bahan keperluan
kenduri kepada Teungku Sagoe dan Geuchik. Mereka yang akan memanggil pemuda kampong sebagai tenaga pekerja dalam upacara. Kemudian hewan disembelih oleh Teungku, lalu dimasak bersama-sama dan makan bersama-sama.

Aceh Review- *Marhaban/Peutrôn Aneuk Manyak
Peutrôn Aneuk Manyak merupakan upacara turun tanah bayi yang pelaksanaannya berbeda-beda di setiap daerah. Turun tanah bayi pada masyarakat Gayo dilakukan pada hari ketujuh setelah bayi lahir bersamaan dengan upacara cukur rambut, pemberian nama, dan akikah.

 Lain halnya pada masyarakat Aneuk Jamee, turun tanah bayi disebut dengan turun ka aie yang dilakukan pada hari keempat puluh empat bersamaan dengan cukur rambut, pemberian nama, dan kadang-kadang pula disertai dengan acara hadiah. Dahulu turun tanah bayi dilakukan setelah bayi berumur satu sampai dua tahun. Terlebih bila anak itu anak pertama  karena upacara untuk anak pertama pasti lebih besar.

Pada hari upacara ini bayi digendong oleh seorang yang terpandang, baik perangai dan budi pekerti. Orang yang  menggendong memakai pakaian yang bagus-bagus. Bayi beserta orang yang menggendong ditudungi dengan sehelai kain  yang dipegang oleh empat orang pada tiap seginya.

Note/Catatan : Mohon Di Koreksi Klo ada Kesalahan.!





Sunday, December 16, 2018

Review Baju Adat Aceh




Review Baju Adat Aceh 
Baju Adat Aceh! Indonesia sebagai negara dengan kekayaan alam dan budaya melimpah sudah tak asing lagi di mata dunia. Baik itu keberagaman bahasa, adat istiadat, serta kepercayaan di dalamnya.

Salah satu diantara sekian banyak kekayaan tersebut ada di provinsi Nangro Aceh Darussalam (NAD). Provinsi yang dijuluki serambi mekah ini terletak di ujung barat pulau Sumatera.
Pengaruh budaya islam dalam keseharian masyarakat Aceh rasanya sudah tak bisa dilepaskan lagi. Mulai dari aturan, tarian tradisional, kesenian, hingga baju adatnya sekalipun. Gaya berpakaian mereka sejatinya ialah hasil akulturasi antara budaya Islam dan melayu. Baik itu untuk pakaian pria maupun wanita.
Baju adat Aceh yang biasa digunakan masyarakat sekitar dikenal dengan nama Linto Baro (pria) dan Daro Baro (wanita). Sekarang, pakaian ini banyak digunakan dalam acara-acara pernikahan
Baju adat Aceh untuk Pria
Pakaian adat Nanggroe Aceh Darussalam yang digunakan oleh pria disebut dengan Linto Baro. Pakaian adat aceh Linto Baro diperkirakan telah ada di Aceh sejak zaman kerajaan Perlak dan Samudera Pasai yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia.
Pada awalnya, Linto Baro lebih sering digunakan sebagai pakaian adat aceh untuk pria dewasa saat menghadiri upacara adat atau upacara pemerintahan. Linto Baro sendiri terdiri dari beberapa jenis pakaian yaitu Meukasah (baju atasan), Siluweu (celana panjang), Ijo Korong (kain sarung bermotif khas), Rencong (senjata khas tradisional Aceh), dan Meukeutop (penutup kepala).
1. Meukasah
 Meukasah merupakan baju tenun yang terbuat dari kain sutra. Biasanya, meukasah memiliki warna dasar hitam. Pemilihan warna dasar hitam ini bukan tanpa alasan. Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, warna hitam merupakan lambang dari kebesaran.
Dalam meukasah dapat pula ditemukan aksen sulaman emas yang hampir sama dengan pakaian khas masyarakat China. Aksen sulaman emas ini biasanya terdapat di kerah meukasah. Adanya aksen sulaman ini disebut-sebut karena hasil akulturasi budaya melayu dengan budaya China. Dipercaya, masuknya lebudayaan Cina dibawa oleh para pedagang dan pelaut yang melewati daerah Aceh kala itu.
2. Sileuweu
Sileuweu merupakan bawahan yang digunakan untuk menutupi bagian bawah tubuh untuk laki-laki berupa celana panjang. Warna celana sileuweu biasanya juga berwarna gelap, senada dengan atasan meukasah. Celana siluweu  terbuat dari kain katun yang merupakan ciri khas pakaian adat aceh – Melayu.
Selain disebut sileuweu, celana khas baju adat Aceh ini juga memiliki nama sebutan lain yaitu Celana Cekak Musang. Aksesoris tambahan pada celana ialah sarung atau disebut juga ija lamgugap, ija krong, dan ija sangket. Kain sarung biasanya merupakan kain songket berbahan dasar sutra. Cara penggunaan sarung adalah dengan cara mengaikatkannya ke pinggang dengan panjang selutut atau kira-kira 10 cm di atas lutut.
3. Meukeutop atau Tutup Kepala
Tutup kepala atau kopyah semakin menegaskan kuatnya pengaruh budaya Islam di tanah Serambi Mekah. Kopiah atau biasa disebut meukeutop  merupakan penutup kepala berbentuk lonjong ke atas. Selain itu, meukeutop  dilengkapi lilitan tangkulok. Lilitan tersebut terbuat dari tenun kain sutra dengan hiasan bintang berbentuk persegi 8 berbahan emas atau kuningan.
4. Rencong
Setiap daerah atau adat lain tentunya memiliki senjata tradisional sebagai senjata khas daerah mereka. Tidak terkecuali di Aceh. Rasanaya tidak lengkap jika pakaian adat Aceh tidak disandingkan bersama senjata tradisional khas daerah. Rencong merupakan senjata khas Aceh yang diselipkan di bagian pinggang pria dengan memperlihatkan bagian gagang senjata.
Baju Adat Aceh untuk Wanita
Daro Baro merupakan sebutan untuk pakaian pengantin wanita di Aceh. Jika pakaian pengantin laki-laki cenderung berwarna gelap, maka sebaliknya pakaian adat Aceh untuk pengantin wanita cenderung memiliki warna lebih cerah.
Kesan Islami tetap kental dalam pakaian wanita. Pilihan warna yang biasanya digunakan untuk pakaian pengantin perempuan adalah merah, kuning, ungu atau hijau. Baju adat Aceh untuk pengantin perempuan terdiri dari baju kurung, celana cekak musang, penutup kepala dan juga perhiasan.
1. Baju Kurung
Baju kurung dipilih sebagai atasan baju adat aceh juga memiliki patokan kuat terhadap kaidahh-kaidah islami. Baju kurung didesain dengan ukuran lengan panjang serta cenderung longgar. Hal tersebut dimaksudkan agar baju mampu menutupi seluruh tubuh wanita dan tidak memperlihatkan lekuk tubuh sang pemakai. Baju kurung merupakan bentuk akulturasi dari budaya Arab, Melayu dan Tionghoa. Hal ini dapat dilihat dari motif kerah baju kurung yang sama dengan motif pakaian China.
2. Celana Cekak Musang
Celana ini memang dapat digunakan oleh pria maupun wanita. Penggunaannya pun tidak beda jauh dengan cara penggunaan celana  cekak musang pada laki-laki. Celana cekak musang dilengkapi dengan sarung sepanjang lutut. Selain sebagai setelan pakaian pengantin, bawahan ini banyak digunakan saat penampilan tari saman.
3. Penutup Kepala
Sebagai hasil akulturasi budaya Arab dan Melayu, maka tidak heran jika pengantin wanita dituntut untuk sebisa mungkin untuk menutupi seluruh anggota tubuhnya. Mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pengantin perempuan biasanya menutup kepalanya menggunakan kerudung berhiaskan dengan patham dhoi. Patham dhoi merupakan hiasan yang terbuat dari bunga-bunga sungguhan dan masih segar.
4. Perhiasan
Selain bermahkota kerudung berhiaskan bunga-bunga segar, bagian tubuh lain pengantin wanita juga dihiasi berbagai macam perhiasan. Mulai dari patham dhoe (perhiasan pada dahi berbentuk mahkota terbuat dari emas 24 karat), kemudian ditambah 5 butir serkonia putih, di mana beratnya mencapai 160 gram. Lalu ada pula gleueng goki yaitu gelang kaki berbahan tembaga berlapiskan perak.
Semoga bermanfaat.

Tuesday, November 13, 2018

Sosial Budaya Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam terdiri atas sembilan suku, yaitu Aceh (mayoritas), Tamiang (Kabupaten Aceh Timur Bagian Timur), Alas (Kabupaten Aceh Tenggara), Aneuk Jamee (Aceh Selatan), Naeuk Laot, Semeulu dan Sinabang (Kabupaten Semeulue). Masing-masing suku mempunyai budaya, bahasa dan pola pikir masing-masing.

Bahasa yang umum digunakan adalah Bahasa Aceh. Di dalamnya terdapat beberapa dialek lokal, seperti Aceh Rayeuk, dialek Pidie dan dialek Aceh Utara. Sedangkan untuk Bahasa Gayo dikenal dialek Gayo Lut, Gayo Deret dan Gayo Lues.

Di sana hidup adat istiadat Melayu, yang mengatur segala kegiatan dan tingkah laku warga masyarakat bersendikan hukum syariat Islam. Penerapan syariat Islam di provinsi ini bukanlah hal yang baru. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, tepatnya sejak masa kesultanan, syariat Islam sudah meresap ke dalam diri masyarakat Aceh.

Sejarah menunjukkan bagaimana rakyat Aceh menjadikan Islam sebagai pedoman dan ulama pun mendapat tempat yang terhormat. Penghargaan atas keistimewaan Aceh dengan syariat Islamnya itu kemudian diperjelas dengan Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 menggenai Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh. Dalam UU No.11 Tahun 2006 mengenai Pemerintahan Aceh, tercantum bahwa bidang al-syakhsiyah (masalah kekeluargaan, seperti perkawinan, perceraian, warisan, perwalian, nafkah, pengasuh anak dan harta bersama), mu`amalah (masalah tatacara hidup sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari, seperti jual-beli, sewa-menyewa, dan pinjam-meminjam), dan jinayah (kriminalitas) yang didasarkan atas syariat Islam diatur dengan qanun (peraturan daerah).

Undang-undang memberikan keleluasaan bagi Aceh untuk mengatur kehidupan masyarakat sesuai dengan ajaran Islam. Sekalipun begitu, pemeluk agama lain dijamin untuk beribadah sesuai dengan kenyakinan masing-masing. Inilah corak sosial budaya masyarakat Aceh, dengan Islam agama mayoritas di sana tapi provinsi ini pun memiliki keragaman agama.

Keanekaragaman seni dan budaya menjadikan provinsi ini mempunyai daya tarik tersendiri. Dalam seni sastra, provinsi ini memiliki 80 cerita rakyat yang terdapat dalam Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Aneuk Jame, Tamiang dan Semelue. Bentuk sastra lainnya adalah puisi yang dikenal dengan hikayat, dengan salah satu hikayat yang terkenal adalah Perang Sabi (Perang Sabil).

Seni tari Aceh juga mempunyai keistimewaan dan keunikan tersendiri, dengan ciri-ciri antara lain pada mulanya hanya dilakukan dalam upacara-upacara tertentu yang bersifat ritual bukan tontonan, kombinasinya serasi antara tari, musik dan sastra, ditarikan secara massal dengan arena yang terbatas, pengulangan gerakan monoton dalam pola gerak yang sederhana dan dilakukan secara berulang-ulang, serta waktu penyajian relatif panjang.

Tari-tarian yang ada antara lain Seudati, Saman, Rampak, Rapai, dan Rapai Geleng. Tarian terakhir ini paling terkenal dan merupakan perpaduan antara tari Rapai dan Tari Saman.

Dalam bidang seni rupa, Rumoh Aceh merupakan karya arsitektur yang dibakukan sesuai dengan tuntutan budaya waktu itu. Karya seni rupa lain adalah seni ukir yang berciri kaligrafi. Senjata khas Aceh adalah rencong. Pada dasarnya perpaduan kebudayaan antara mengolah besi (metalurgi) dengan seni penempaan dan bentuk. Jenis rencong yang paling terkenal adalah siwah. 

Friday, November 9, 2018

Macam Macam Kebudayaan Aceh Lengkap Beserta Gambar dan Penjelasannya





Kebudayaan Nanggroe Aceh Darussalam – Aceh merupakan salah satu wilayah Indonesia yang letaknya berada di bagian paling ujung sendiri dari rangkaian kepulauan Nusantara. Aceh atau yang juga dikenal dengan Nanggroe Aceh Darussalam merupakan suku pribumi yang memiliki akar sejarah istimewa bagi Indonesia. Aceh juga mendapat julukan serambi Mekkah, hal ini dikarenakan Aceh memiliki nilai ideologis islam yang melekat dan begitu kental dalam kehidupan masyarakatnya.
Selain itu, Aceh juga memiliki banyak budaya khas seperti  10 kebudayaan Aceh yang akan dipaparkan di bawah ini. Mulai dari bahasa yang digunakan, pakaian adat, tari-tarian, rumah adat, dan masih banyak lagi. Aceh sendiri menurut sejarah menyatakan bahwa masyarakatnya sebagian besar adalah sebagai pendatang yang datang dari berbagai asal kemudian menetap dan tinggal di Aceh tersebut. Namun di antara para pendatang tersebut, kabarnya sukun Aceh tertua berasal dari Suku Mante yang berasal dari Melayu.
Tidak sedikit juga masyarakat Aceh yang merupakan keturunan India, Arab, Persia maupun Turki. Hal ini karena terjalinnya pernikahan dari para pedagang yang masuk ke tanah Aceh dan menikah dengan penduduk Aceh tersebut. Menarik sekali bukan cerita tentang Aceh ini?. Bisa dibayangkan akan bagaimana indahnya kebudayaan-kebudayaan daerah yang ada di Aceh?. Langsung saja, berikut artikel kebudayaan Aceh yang menarik sekali untuk Anda ketahui untuk memperluas wawasan tentang keanekaragaman budaya Nusantara.

Macam-macam Budaya Aceh:

  1. Rumah Adat.
  2. Pakaian Adat.
  3. Upacara Perkawinan.
  4. Upacara Peusijeuk.
  5. Tarian Adat.
  6. Senjata Adat.
  7. Makanan Adat.
  8. Suku Adat.
  9. Bahasa Daerah.
  10. Lagu Daerah.

1. Rumah Adat Aceh Krong Bade

Untuk mengenal 10 kebudayaan Aceh yang istimewa ini kita mulai dengan  mengenal rumah adatnya. Rumah adat Aceh sendiri dikenal dengan nama Rumoh Aceh atau krong Bade. Ada beberapa hal yang unik dan menjadi ciri khas dari rumah adat Aceh ini. Salah satunya bentuk rumah yang seperti panggung dengan berjarak sekitar 2,5 sampai 3 meter dari atas tanah. Keseluruhan bangunan rumah adat ini juga dibangun dengan menggunakan kayu. Sedangkan atapnya berasal dari anyaman daun enau atau daun rubia.
Hal yang menjadikan rumah adat ini semakin unik adalah dari segi penggunaannya, seperti bagian kolong rumah yang digunakan sebagai tempat menyimpan bahan-bahan makanan sedangkan bagian atas atau panggungnya digunakan sebagai tempat istirahat atau penerima tamu. Masih ada satu lagi yang menjadi keunikan mendalam dari Aceh ini yaitu terletak pada jumlah anak tangga yang mengantarkan pada ruang utama atau panggung.
Anak tangga tersebut sengaja dibuat ganjil yang dimaksudkan sebagai simbol nilai religius Suku Aceh. Selain itu rumah adat yang merupakan 10 kebudayaan Aceh ternama ini juga mempunyai kesan yang khas nama-nama setiap bagian rumah dengan fungsinya masing-masing. Seperti Seuramoe Teungoh yang merupakan bagian ruangan depan sebagai ruangan khusus keluarga, Seuramoe Keue yang difungsikan sebagai tempat menerima tamu, serta Seurameo Likot yang difungsikan sebagai dapur.

2. Pakaian Adat Aceh

Seru bukan mengenal kebudayaan Aceh ini?. Selanjutnya untuk mengupas tuntas 10 kebudayaan Aceh  yang dimulai dengan mengenal rumah adatnya, dilanjutkan dengan mengenal pakaian adat Aceh yang unik dan khas. Tahukah Anda, pakaian adat Aceh merupakan peninggalan dari sejarah Kerajaan Perlak dan Kerajaan samudera Pasai. Untuk pakaian adat pria dikenal dengan nama baju Linto Biro, sedangkan untuk pakaian adat wanitanya dikenal dengan nama Daro Buro.
Pakaian adat Aceh ini biasanya digunakan pada saat-saat istimewa saja, seperti upacara adat atau acara-acara pemerintahan lainnya. Pakaian adat pria sendiri merupakan perpaduan dari beberapa bagian. Mulai dari bagian atas yang disebut Meukasah dan celana atau bagian bawahannya disebut cekak musang atau ada juga yang menyebutnya dengan nama celana sileuweu.
Sedangkan untuk pakaian adat wanitanya merupakan perpaduan dari baju atasan yang berbentuk baju kurung berlengan panjang dengan kerah baju yang bergaya seperti kerah baju pakaian China. Sedangkan bagian bawahnya juga mengenakan celana cekak musang. Pakaian adat Aceh yang merupakan salah satu dari 10 kebudayaan Aceh ini biasa dikenakan dalam pertunjukan panggung di acara bergengsi dengan jajaran pakaian adat lainnya untuk memperkenalkan keanekaragaman budaya bangsa yang wajib dilestarikan.
3. Upacara Adat Perkawinan Aceh
Di antara 10 kebudayaan Aceh ini, masih dilengkapi dengan upacara adat yang biasa diselenggarakan dengan tujuan dan fungsinya masing-masing. Ada beberapa upacara adat yang merupakan tradisi masyarakat Aceh seperti upacara perkawinan. Upacara perkawinan di Aceh diselenggarakan dengan berbagai tahapan, mulai dari tahapan melamar calon pengantin wanita, tunangan, pesta pelaminan, penjemputan mempelai wanita, hingga penjemputan mempelai pria.
4. Upacara Peusijuek
Upacara adat yang ada di Aceh bukan hanya upacara yang digelar dalam acara perkawinan saja, masih ada lagi seperti upacara peusijeuk yang merupakan tradisi memercikkan air yang dicampur dengan tepung tawar kepada seseorang yang sedang mempunyai hajat tertentu.
5. Tarian Adat  Nanggroe Aceh Darussalam
Untuk mengenal kebudayaan Aceh tidak lengkap tanpa mengetahui tarian adat yang ada di Aceh. Tarian adat dari Aceh yang sangat terkenal adalah Tari Saman. Tari Saman memiliki unsur-unsur keindahan seni yang unik dan khas. Tarian ini ditampilkan dengan mengandalkan gerakan tepukan pada tangan, dada tanpa diiringi alat musik lainnya. Namun meski tanpa alunan musik yang mengiringi, kepiawian penari membuat tarian ini menjadi pertunjukan yang indah dan menarik.
Tarian Tradisional yang Berasal Dari Aceh:
  • Tari Saman.
  • Tari Laweut Aceh.
  • Tari Tarek Pukat.
  • Tari Bines.
  • Tari Didong.
  • Rapai Geleng.
  • Tari Ula ula lembing.
  • Tari Ratoh Duek Aceh.
  • Tari Pho.

6. Senjata Tradisional Aceh
Mengenal 10 kebudayaan Aceh selanjutnya adalah mengenal senjata adat yang digunakan masyarakat Aceh. Senjata tradisional Suku Aceh dikenal dengan nama Rancong. Rancong sendiri merupakan senjata yang memiliki ukuran relatif kecil berbentuk sejenis keris yang mulai dipakai oleh Suku Aceh sejak zaman kesultanan Aceh. Selain Rancong, ada juga Siwah dan Peudeung yang juga merupakan  senjata adat Suku Aceh.
Senjata Tradisional Aceh:
  • Rencong meupucok
  • Rencong meucugek
  • Rencong meukuree
  • Rencong pudoi
  • Siwah
  • Peudeung

7. Makanan Adat NAD
Makanan adat yang biasa disajikan masyarakat Aceh memiliki corak yang mirip dengan masakan India. Di antaranya seperti rti canai dan gulai atau kerambi kering. Ada juga makanan yang berbahan dasar ikan atau yang dikenal dengan nama eungkot paya. Saat Anda berkunjung ke suku Aceh, Anda dapat menikmati 10 kebudayaan Aceh lainnya termasuk mencicipi makanan adatnya yang menggoyang lidah.
Makanan Khas Aceh:
  • Manisan pala
  • Sanger
  • Pisang Sale
  • Kembang loyang
  • Lepat
  • Rujak Aceh Samalanga
  • Keumamah
  • Kue Bhoi
  • Bohromrom
  • Meuseukat

8. Suku Adat

Aceh terdiri dari berbagai suku dan marga yang mendiami tempat ini. Seperti Suku Aceh, Suku Alas, Suku Tamiang, Suku Gayo, Suku Ulu, Suku Singkil, Suku Simelu, Suku Jamee, Suku Ulet dan lain sebagainya. Berbagai suku yang mendiami Aceh ini hidup secara berdampingan dan mewarnai keindahan corak budaya yang ada di Aceh tersebut.

10 Suku di Aceh:

  1. Suku Gayo.
  2. Suku Aneuk Jamee.
  3. Suku Singkil.
  4. Suku Alas.
  5. Suku Tamiang.
  6. Suku Kluet.
  7. Suku Devayan.
  8. Suku Sigulai.
  9. Suku Batak Pakpak.
  10. Suku Haloban.


9. Bahasa Daerah Aceh
Berbicara tentang 10 budaya Aceh hal yang wajib dan tidak boleh terlewatkan adalah mengenal bahasa daerah yang digunakan di sana. Aceh sendiri mempunyai beberapa bahasa daerah yang biasa digunakan sebagai bahasa keseharian seperti Bahasa Aceh, Bahasa Gayo, Bahasa Alas dan sebagainya.
10. Lagu Daerah Aceh
Tidak lengkap rasanya mengenal kebudayaan Aceh sebelum mengetahui lagu daerah yang menjadi kesenian Aceh ini. Aceh mempunyai beberapa lagu daerah yang nyaman didengarkan sebagai teman bersantai seperti Bungong Jeumpo dan Piso Surit.
Macam macam lagu daerah Aceh:
  • Bungong Jeumpa.
  • Tawar Sedenge.
  • Aceh Lon Sayang.
  • Aneuk Yatim.
  • Sepakat Segenap.
  • Lembah Alas.
Adanya berbagai kebudayaan yang dimiliki, membuat Aceh menjadi salah satu wilayah bagian Indonesia yang cukup terkenal dengan nilai kereligiusannya. Dengan sajian 10 kebudayaan Aceh tersebut membuat Anda menjadi lebih mengenal budaya Aceh dan memperluas wawasan kebudayaan Nusantara.
Sumber :perpustakaan.id

Wednesday, November 7, 2018

Festival Rapa'i dan Perkusi Internasional Digelar di Lhokseumawe


             
LHOKSEUMAWE,- Kota Lhokseumawe akan menggelar Aceh International Rapa'i Festival (ACIRAF) ke-2 pada 3-7 November 2018. Ratusan penabuh rapa'i dan sejumlah grup perkusi luar negeri akan memeriahkan salah satu dari 100 event Wonderful Indonesia 2018 di Stadion Tunas Bangsa, Kota Lhokseumawe. Ketua Panitia Nazaruddin ZA mengatakan, pagelaran ACIRAF tahun ini mengusung konsep murni perkusi bernuansa Islami. Baca juga: Menikmati Ikan Segar sembari Mendengar Deburan Ombak di Lhokseumawe Sebanyak lima negara diundang menghadiri pagelaran seni tersebut, yakni Malaysia, Thailand, Uzbekistan, Mesir, dan Turki. "Konsep yang kami usung berbeda dengan sebelumnya, yaitu penampilan rapa'i dan perkusi tradisi dari sejumlah negara tanpa kolaborasi alat musik moderen.

          Adapun peserta perkusi Indonesia yang ikut diundang adalah Sanggar Legaran Sati dari Sumatera Barat, Sanggar Alam Serang Dakko dari Sulawesi Selatan, Sanggar Gempar Lima, Gendang Panjang Bengkalis, Riau dan sejumlah sanggar lainnya. Baca juga: 3 Pantai Paling Populer di Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe Pihaknya tengah mematangkan persiapan di lapangan, seperti persiapan tiga lokasi acara, yaitu di Stadion Tunas Bangsa, Lapangan Sudirman, dan Waduk Jeulikat. "Selain pertunjukan seni, kami juga menggelar seminar budaya, kunjungan ke situs sejarah dan agenda pra-acara," ujarnya.  Kementerian Pariwisata RI menujuk Kota Lhokseumawe menggelar ACIRAF karena dinilai mampu melestarian seni tabuh rapa'i sehingga akan menjadi agenda tetap kegiatan pariwisata Kota Lhokseumawe.